Breaking News
Loading...
Rabu, 20 Februari 2013

Batik Bakaran Ikon Kota Pati - Jateng

10.10
Batik bakaran ini sudah eksis sejak zaman Majapahit pada abad 14 M yang lalu. Ceritanya, seni tangan ini dikembangkan oleh sang abdi dalem dari keraton yang bertugas merawat gedung pusaka yang mempunyai keahlian membatik untuk keperluan gedung pusaka itu. ”Banoewati” adalah nama dari sang abdi dalem tersebut.

Sang abdi ini bersama ketiga bersaudara (ki dalang, kidukut, ki truno) melarikan menyelamatkan diri menyusuri pantai utara kearah barat atas desakan raja dan prajuri karena saat itu seluruh warga keraton Majapahit dilarang memeluk Islam. Dalam pelarian ini sampailah pada suatu daerah, yakni Juwana tepatnaya didesa Bakaran. Didesa inilah nyii Banoewati atau nyai Sabirah – warga setempat menyebutnya – tinggal dan mengembangkan keahlian membatiknya. Sehingga sampai pada saat ini batik berkembang dibakaran dan sebagai ikon Pati.

BATIK BAKARAN SUDAH TERPATENKAN

Batik ini merupakan wujud ekspresi masyarakat pesisir pati. Sehingga corak motifnya memperlihatkan karakter masyarakat. Tergolong ada 2 jenis motif batik bakaran, yakni motif klassik dan motif terkini/ modern. Motif klassik adalah batik yang motifnya abstrak dan berupa simbol-simbol yang mempunyai cerita unik dalam pembuatannya. Batik klassiknya bakaran adalah berwarna antara hitam, putih dan cokelat.

Yang kedua motif modern yang ciri khasnya adalah motif aktual berupa bunga, ikan,air, pohon dsb, yang warnanya bervariasi yang merupakan hasil inovasi masyarakat. Yang menjadi khasnya lagi batik bakaran adalah motif “retak atau remek”. Batik ini teknik perajinannya adalah sangat tradisional sekali, diantara teknik dan prosesnya adalah nggirah, nyimplong, ngering, nerusi, nembok, medel, mbironi, nyogo, dan nglorod.

Sekarang ini batik bakaran sudah ada yang dipatenkan oleh Ditjen HAKI sebagi motif batik milik pati. Terhitung semuanya berjumlah 17 motif yang terpatenkan. Ke17 motif itu semuanya adalah motif klassik. Diantaranya adalah, motif blebak kopik, rawan, liris, kopi pecah, truntum, gringsing, sidomukti, sidorukun, dan limaran, dan lain sebagainya.

0 komentar:

Posting Komentar

 
Toggle Footer